Monday, August 27, 2012

Forget Not Your Past


 Forget Not Your Past

Gue mau ngelupain masa lalu gue..
Itulah yang biasa orang katakan..

Kenapa mau melupakan masa lalu? 

Menurut saya, melupakan masa lalu bukanlah hal yang cukup bijak.. sakit hati, luka, dan kepahitan di masa lalu justru yang membentuk diri kita sebagaimana ada sekarang ini. Semakin sakit, maka semakin memotivasi.

Tidak semua kisah hidup manusia selalu bahagia kan? Selalu ada sisi kelamnya. Sama seperti ketika bermain judi, terkadang menang, terkadang kalah.. atau bahkan lebih sering kalah ketimbang menang..
Sewaktu saya masih kecil, saya juga merasakan yang namanya kepahitan hidup. Saya juga pernah benci dengan diri saya sendiri. Saya ingin terlahir sebagai orang lain. 

Tidak jarang kan orang ingin memiliki kehidupan seperti orang lain? atau bahkan bisa dikata apabila semua orang sebenarnya PASTI pernah ingin menjadi orang lain. Intinya, semua orang ingin lari dari kenyataan yang jelas-jelas tidak dapat dihindari. 

Waktu saya masih SD, otak saya lemah sekali untuk menyantap rumus matematika (bahkan sampai sekarang.. haha). Dan pada waktu itu, pribadi yang mengajar saya sudah cukup stress karena saya bebal sekali untuk menghafal sekitar 4 rumus bangun ruang. Maka sampai sekarang jika saya melihat gambar bangun ruang dengan perhitungannya, memori masa kecil saya yang terletak di bagian dalam otak yang begitu tidak menyenangkan akan terbuka dengan sendirinya tanpa dikomando.

Saya pernah dikatakan “dasar otak udang!” hanya karena masalah sepele: sulit mengingat rumus bangun ruang.
Sungguh kesal rasanya..
Pada waktu itu, saya sungguh sudah berusaha untuk menghafal dengan cepat.. bagaimana tidak? saya ingin segera menyelesaikan pelajaran matematika itu, kemudian segera keluar main.. tapi apesnya itu tidak terjadi karena masalah yang saya jelaskan tadi di atas. 

Ketika mendengar pernyataan “otak udang” itu, saya langsung naik pitam, dan langsung lari ke kamar kecil untuk menangis sejadi-jadinya.. dan saya berteriak juga “saya tidak bodoh!!  ngajarinnya aja ga sabaran! siapa yang otak udang??! HUH!!” dan dalam hati berpuluh-puluh kali saya ucapkan “Matematika sialan! Saya dihina begini cuma gara-gara bangun ruang dong?! kurang ajar!!”..
Sungguh pernyataan sadis itu adalah hal paling menyakitkan di masa kecil yang masih sangat saya ingat jelas dan tidak bisa terlupakan sampai sekarang.. 

Bagi anda yang tidak pernah mengalaminya, tentu menganggap 2 kata itu sebagai kata biasa saja.. bagi saya itu sudah luar biasa melumpuhkan.. sekalipun sampai sekarang saya tidak begitu tahu alasan pribadi tersebut kenapa menggunakan istilah otak udang.. saya hanya menebak otak udang itu kecil atau bahkan otaknya tidak ada dan tidak bisa berpikir..? 

Namun demikian, dengan kejadian seperti itu, saya jadi lebih termotivasi belajar lebih keras, supaya tidak ada lagi sebutan “otak udang” untuk kali kedua. Cukup itu yang pertama dan terakhir..
Nilai matematika saya di SMP tidak di bawah 75, bahkan saya pernah mendapat nilai matematika 96 di rapor saat duduk di bangku SMA. Saya rasa saya cukup benar kalau saya tidak sebodoh yang pribadi itu bilang.. 

Saya yakin, bahwa tidak ada seorang pun di dunia ini senang apabila dirinya diremehkan..
Ketika di dunia perkuliahan, ada orang-orang yang menganggap saya tidak cukup bisa diandalkan, dan di saat ada kerja kelompok dan ide saya diabaikan, saat itu pula saya mulai mengkoreksi diri dan mulai belajar berubah, agar saya bisa dipandang!

Dari dulu, saya senang berada di lingkungan yang saya rasa bisa membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik, saya memilih berteman dengan orang-orang yang tidak kelewat gaul (alias suka hura-hura), berteman dengan yang orang yang tulus, tidak memandang pertemanan dengan harta, dan berteman dengan yang pintar! Mengapa? Karena saya pasti akan lebih terpacu belajar, supaya tidak terlihat memalukan.. 



Adapun saya juga ingin membagikan kisah lainnya yang masih berhubungan dengan masa lalu adalah terinspirasi dari salah satu teman baik saya di kampus.
Teman saya yang satu ini termasuk orang yang menyenangkan, dinamis, memiliki sense humor yang baik, periang, juga cukup perhatian, cantik, mudah bergaul, dan juga pintar..

Begitu baiknya memiliki teman sepertinya.

Bermula dari iseng-iseng saya membuka profilnya di social media, saya membuka dan membaca sebuah kisah di blognya mengenai seorang gadis dengan latar belakang kehidupan masa lalu yang tidak membahagiakan, gambaran seperti seorang anak yang hidup dalam situasi broken home. Dan ketika membacanya, kisah itu terlihat seperti cermin akan kehidupan teman saya itu di masa kecilnya. 

Saya saat itu sangat terkejut sekali.. begitu terkejutnya, sampai-sampai di malam hari nya saya mengalami sulit tidur, karena memikirkannya. Memikirkan teman baik saya yang selama ini terlihat begitu charming dan bisa membuat orang lain merasa nyaman di dekatnya, ternyata memiliki masa lalu yang bisa dikata menyeramkan.. pertanyaan “masa sih??? Yah ampun.. ga nyangka.. “  terus berputar-putar dipikiran saya yang sempit ini.. 

Namun juga dalam hati saya masih mengatakan bahwa teman saya ini begitu hebat.. dia mampu menjalani hari-harinya sekarang dengan baik, dia memiliki iman pengharapan kepada Tuhan yang dahsyat, dan masih bisa senantiasa bersyukur dengan apa yang telah Tuhan berikan padanya.. saya malu juga jika harus membandingkan diri saya dengannya.. saya masih kalah dari dia..(saya hanya mengasumsikan jika kisah ini nyata, meskipun dia menyatakan pada saya bahwa itu bukan kisah kehidupan dia yang sebenarnya).

Tuhan menyertai dan memberkati dia dengan luar biasa.. Puji Tuhan..
saya juga diberkatiNya dengan luar biasa.. Haleluya..

Dari pembacaan ini, saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa, masa lalu yang buruk tidak boleh menjadi alasan kegagalan anda di masa sekarang, apalagi masa depan. Masa lalu adalah bagian dari kehidupan kita yang berfungsi sebagai landasan/ tolak ukur penilaian perkembangan diri kita. Tanamkan pandangan bahwa semua yang terjadi dalam hidup anda adalah untuk pembelajaran berkala yang mengasah hidup anda menjadi lebih berkualitas.














Masa lalu bukan untuk dilupakan, kenangan bukan untuk dikubur dalam-dalam.. semua ada seperti sebuah drama per-televisi-an, yang dimana bedanya, kalau ini kita berperan sebagai sutradara dan aktornya, Tuhan adalah produser dan script writter.. anda bisa menentukan sendiri bagaimana ending story kehidupan anda, dengan perbuatan dan pikiran anda saat ini. Mau happy ending or sad ending? pilih saja sendiri..
Kita hanya perlu memaafkan kesalahan orang lain pada kita di masa lalu jika kita ingin hidup tanpa beban, juga mau memaafkan dan menghargai diri sendiri (meskipun memaafkan diri sendiri lebih sulit daripada memaafkan orang lain). What doesn't kill you make you stronger!
 
Dan salah satu lagu yang ingin saya sharingkan pada pembacaan kali ini yang seringkali membangkitkan semangat saya di saat sedang terpuruk adalah lagu dari Miley Cyrus – Make Some Noise,
yang mengandung lirik begitu bagus: Don’t let anyone tell you that you aren’t strong enough! 

- sometimes the big power comes from someone who underestimate of you-

Friday, August 17, 2012

Hit you With the Real Thing


Hit you With the Real Thing

Pernah atau bahkan seringkah anda menemukan orang dengan kehidupan seperti ini? :

Heboh mencari dan membaca majalah yang ada artis favoritnya, heboh menonton film atau video klip mereka, heboh membicarakan artis idolanya itu, heboh mau bertemu dengannya, heboh jika bisa mendengarkan suara mereka, dan heboh-heboh lainnya yang semua berkaitan dengan “mencari apapun yang berbau dengan pujaan hatinya tersebut”.. Dan bahkan lebih extreme lagi, penggemar berat sampai rela melakukan operasi muka, operasi kulit, menghabiskam beratus-ratus lembaran uangnya, meniru gerak-gerik, karakteristik, hanya demi memiripkan dirinya dengan sang idola!!

Atau mungkin anda salah satu dari orang berkehidupan seperti itu juga?
saya juga dulu sempat pernah begitu.. tapi tidak extreme. hha..

Jika anda memberikan perhatian terhadap hal seperti itu, sekilas hidup terlihat memang sedikit menggairahkan, tetapi sebenarnya banyak menyiksa perasaan.. haha

Ketika hal demikian terjadi dalam waktu lama, tentulah bukan merupakan kebiasaan yang baik. 

Tanpa kita sadari, bahwa dengan bertindak demikian, lambat laun akan membawa hati, pikiran kita menjauh dari pada Tuhan. 

Sekarang saya ingin anda memikirkan hal ini: 
Pernahkah orang yang begitu antusias dengan artis/aktor akan sama alih-alih lebih antusias dengan hal yang berkaitan dengan Tuhan?
Jawabannya adalah: tidak! mengapa? karena hati manusia sesungguhnya dirancang untuk tidak bisa mendua.

Anda tidak percaya? coba saja sekarang anda pikirkan: anda mungkin bisa saja berkawan baik dengan 5 orang. Tetapi pasti dalam kenyataan di dalam lubuk hati anda, anda hanya lebih bisa dekat dan merasa nyaman dengan 1 orang diantaranya.














Sekarang renungkanlah ini:
Apakah kita heboh mencari kehadiranNya? membaca Alkitab, heboh membicarakanNya? pernah dengan hebohnya bersaksi tentang Dia? heboh ingin bertemu denganNya segera (bahkan dalam artian kita tidak takut dengan kematian sekalipun)? senang mendengar dan mengangkat lagu pujian, rindu mendengar suaraNya, dan begitu luar biasa gembira jika telah bersekutu denganNya? Seperti layaknya seorang fans bertemu dengan artis idolanya bisa sampai mencucurkan air mata bahagia, tak jarang pula yang pingsan saking bersyukurnya? berusaha extreme untuk menyerupai Allah dalam tindakan (memperbaiki diri secara terus menerus untuk mencapai kesempurnaan)?

Jangan sampai saja anda seperti Mark David Chapman (penggemar berat John Lenon) yang malah membunuh mati pribadi "sang idola".

Hal duniawi memang seringkali terkesan begitu hidup, penuh sensasi, menyenangkan, dinamis, juga tidak membosankan. Tapi masalahnya, dari semua itu tidak ada satu pun yang mampu  menjamin anda terselamatkan….

Bahkan Allah sendiri sangat benci apabila manusia mendua hati..
(saya jadi teringat akan lagu Iwan Fals-aku bukan pilihan.. hha.. lagu yang tepat sekali menggambarkan ini)

Saya juga pernah tersentak, tertegun, dan merasa tergetar! mendengar pertanyaan dan sekaligus pernyataan dari koko saya:
“Tuhan hanya meminta manusia untuk percaya padaNya! Tuhan mau menyelamatkan mereka..
Berarti sekarang ini pasti banyak banget manusia percaya Tuhan HANYA UNTUK DISELAMATKAN DOANG dong?!?! HANYA SUPAYA TIDAK MASUK NERAKA?? Itu namanya *TERPAKSA PERCAYA..* karena ada motivasi dan tujuan tertentu, dia percaya."

Wow.. setelah hidup 20 tahun, baru kali itu saya benar-benar shock memikirkannya, dan  saya dengan segera menyelidiki , serta meng-interogasi hati, pikiran, diri saya sendiri..
iman seperti apa yang saya miliki? bagaimana pandangan Tuhan tentang saya??

Saya memang ingin terselamatkan….
Namun saya tetap selalu diperingatkan akan ayat ini:
Matius 7:21
Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di sorga.

Entah untuk berapa lama saya merasa begitu takut sekali jika saya termasuk ke dalam “manusia terpaksa percaya” itu..  terdengar begitu egois, sangat menyebalkan, mengerikan, penuh kemunafikan..

Kemudian saya berpikir, seberapa banyak manusia yang masih belum menyadari hal ini? Sebesar apa iman percaya itu? 

Ketulusan sangat mahal harganya..

Colossians 2:6-7
So then, just as you received Christ Jesus as Lord, continue to live your lives in Him,  rooted and built up in Him, strengthened in the faith as you were taught, and overflowing with thankfulness.

Saturday, August 4, 2012

Stop Covering Up Mistakes With Using the Name of God


 Stop Covering Up Mistakes With Using the Name of God

Bagi saya dan banyak orang, kegagalan adalah makanan yang sudah tidak asing lagi. Kegagalan menurut saya adalah hal dimana saya tidak merasa puas dan bangga dengan hasil kerja yang diperoleh. 

Sebenarnya, saya adalah orang yang cukup simple dan tidak memiliki ambisius yang tinggi layaknya seorang juara sebuah pertandingan. Ketika semua berjalan dengan lancar dan tampaknya tidak ada kesalahan besar terjadi, saya sudah cukup puas dan bersyukur. 

Akan tetapi saya tidak tinggal sendirian di dunia ini, sehingga saya tidak bisa selalu merasa comfort dengan apa yang saya raih. Saya cukup yakin, bahwa sesungguhnya hampir semua orang memiliki sifat yang sama dengan saya.. yaitu: saya akan lebih fokus dan seringkali melihat ke atas ketimbang ke bawah.
Artinya, ketika saya memperoleh hasil B, yang tadinya saya merasa puas,  bangga, dan bersyukur; tapi kemudian melihat ada orang lain yang berhasil memperoleh hasil A, maka rasa puas, bangga, dan syukur yang awalnya dimiliki itu, akan seketika luntur begitu saja. Karena kita tahu bahwa ada orang yang melebihi  kita. And it means we are not the best. People hate to be defeated. 

Seberapa beriman dan se-positif apa pun pikiran anda, saya yakin bahwa ada suara kecil di hati dan pikiran anda yang meneyetujui statement saya di atas. Itu hal yang wajar.
 Semakin anda berusaha untuk menyangkal perasaan anda yang sesungguhnya, semakin anda merasa lelah, seperti anda telah melakukan suatu pekerjaan yang berat, dan berarti. Menyimpan perasaan kesal, kecewa, marah memang tidak mudah. Energi anda akan terasa sedikit demi sedikit terkuras habis. 

Bagaimana cara agar anda mampu bangun dari keterpurukan? Jawabannya adalah berdoa, bekerja, berserah kepada Tuhan, dan motivasi diri anda sendiri. 

Mungkin banyak dari kita yang masih belum menyadari bahwa motivator terhandal bagi anda adalah diri anda sendiri. Seperti halnya seorang yang sedang sedih, kecewa, gagal, atau terluka, mereka menceritakan kedukaannya itu kepada orang lain yang dianggapnya mampu memberikan semangat baru bagi dirinya, dan kemudian berpikir bahwa pendeta, orang tua, sahabat, atau orang yang diajak sharing nya itu adalah motivator terhebat untuknya. 

Padahal, motivasi-motivasi hebat yang diperolehnya dari orang lain itu tidak akan menjadi apa-apa apabila mereka tidak meresponnya, tidak meng-iman-i pernyataan tersebut, dan tidak mengembangkannya menjadi kekuatan motivasi yang berdaya ledak besar. So, ingatlah bahwa motivator terbesar adalah diri kita sendiri! Orang lain hanya berperan sebagai penasihat. 

Sekarang saya ingin berbagi cerita dari pengalaman pribadi saya..
Ketika saya mendapat nilai pelajaran yang kurang dan bahkan tidak memuaskan, serta terpaksa harus mengulang, dulu saya menganggapnya sebagai suatu jalan hidup yang memang dari awal Tuhan sudah tahu bahwa saya akan mengalami itu. Saat itu, saya adalah orang yang sepenuhnya yakin bahwa tiap-tiap detik yang saya lalui, Tuhan mengetahui dan telah mengatur semuanya. Jadi apapun yang saya lakukan dan dapatkan, saya yakin itu sudah sesuai dengan rancangan Tuhan atas hidup saya.

Sehingga ketika saya mendapat nilai rendah dan harus mengulang pelajaran, saya masih berpikir bahwa ini sudah jalannya Tuhan. Dan setelah berpikir demikian, maka saya akan bisa kembali bersyukur dengan kondisi yang ada. 

Sekali, dua kali saya mengalami hal serupa, saya masih memegang pandangan tersebut. Saya masih bisa enjoy dengan hidup saya yang sedikit bermasalah itu. Saya bisa tenang dan gembira menjalani hari-hari yang berat sekalipun. 

Namun saat kegagalan ketiga, keempat dan terus terulang kembali, saya mulai berpikir.. mungkin memang telat, tapi saya syukuri saya masih sempat berpikir akan hal ini: kegagalan tidak selalu direncanakan oleh Tuhan. Hanya saja kegagalan seringkali membuat kita menjadi pribadi yang suka mencari alasan atas kegagalan tersebut, dan memupuk jiwa pecundang. 

Saya tidak akan keberatan sama sekali apabila anda menilai saya sebagai seorang yang “kurang beriman”.. itu terserah anda.. yang jelas saya sudah mengalami kegagalan bukan hanya sekali-dua kali, dan saya selalu melakukan evaluasi terhadap hal tersebut. Dan yang penting saya pribadi memiliki kepercayaan bahwa saya bukanlah pengkhianat iman.

Sekarang, saya ingin memberi contoh bagaimana maksud context pembicaraan saya ini:

Ketika kita gagal dalam memperoleh nilai bagus, sehingga mengharuskan mengulang pelajaran tersebut. Saat peristiwa menyedihkan itu terjadi sekali, seberapa banyak dari kita yang masih bisa mencari dan memberi alasan “ini mungkin sudah kehendak Tuhan jika saya harus ngulang lagi.. pasti ada rencana indah di balik kegagalan ini yang sudah Tuhan sediakan buat saya..”

Ketika ada dari kita yang kehilangan pekerjaan pada saat jabatannya dalam posisi tinggi. Satu kali terjadi, masih bisa berpikir positif “ini mungkin sudah jalanNya Tuhan.. saya tahu Tuhan telah merencanakan segala yang terbaik buat saya..”

Ketika kita ditolak orang yang disukai. Masih bisa dong anda juga berpikir “Tuhan pasti rencanain yang terbaik.. mungkin memang bukan dia orang yang Tuhan kirim sebagai kekasih saya..”

ditambah pula dengan kata-kata pamungkas: "cara Tuhan adalah yang terbaik.."

Dan banyaaaakk lagi hal-hal lain yang semua kegagalan mengatasnamakan Tuhan.

Saya juga dulu hampir selalu memiliki pemikiran seperti itu.. 

Tetapi lama kelamaan, semakin banyaknya permasalahan yang datang, kegagalan yang terjadi atas hidup saya, itu semua secara perlahan-lahan mengajari saya untuk menjadi orang yang lebih realistis.
Selama ini nyatanya saya belum sepenuhnya menjadi orang yang dapat berpikir dan berpengharap dengan tepat. 

Saya menyadari bahwa semakin saya mengatasnamakan Tuhan dalam kegagalan saya, maka rasa toleransi saya terhadap kegagalan pun semakin besar. Yang mengakibatkan saya tidak terlalu berusaha keras mengintropeksi diri dan tidak serius dalam merespon perubahan.

 Coba pikirkan bila penyebab utama untuk contoh saya di atas adalah:
1. saya mengulang pelajaran karena saya memang dulu tidak fokus dalam belajar
2. saya kehilangan pekerjaan karena saya memang tidak bekerja dengan serius
3. saya tidak mendapatkan pujaan hati karena saya terlalu egois dalam bertindak

Sekarang bayangkan lah apabila anda berada di posisi Tuhan.. saya yakin anda akan cukup bingung, kesal, marah, kecewa, dan sedih karena manusia menjadikan Tuhan sebagai tameng/ kambing hitam yang ditunjuk untuk dipersalahkan.. dan menjadi tertuduh yang harus bertanggung jawab atas kegagalan dan kesalahan kita manusia. 

Bagaimana tidak? Dia telah merencanakan untuk kita plan A, namun karena kelalaian, kemalasan, ketidak-disiplinan, keacuhan, kecerobohan dan kesombongan kita, kita jadi berbelok mendapatkan hasil B. Kemudian kita tidak terima, lalu berkata “ini sudah Tuhan atur.. Tuhan tau yang terbaik untuk saya..  ini sudah jalanNya bahwa saya harus gagal sekarang untuk memperoleh hal yang indah dibalik rancanganNya.. meskipun saya tidak tahu apa itu.. karena saya tahu pasti Tuhan tidak akan menjatuhkan saya!”

Nah loh!! Kena kan tuh nama Tuhan dibawa-bawa untuk mengurangi penyesalan dan kesedihan kita? Hal tersebut layak lah seperti teori di Akuntansi Manajemen yang mana membahas tentang over/under allocated.. kita terlalu rendah memberi poin kesalahan kita(under allocated), dan membebankan poin kesalahan kepada Tuhan lebih besar (overallocated). 

Adil ga sih?? Ya jelas banget engga nya lah, cuy!
Tuhan bisa-bisa bilang begini ke kita guys:  “loh ko u nyalahin I sh? I tuh uda kasih ke u rancangan A.. nah kalo u akhirnya malah dapetin B karena kelalaian u sendiri, kenapa u bilang itu rancangan I? itu kan sama aja dengan u minta I buat bertanggung jawab atas masalah yang u timbulin.. u gt ya.. tau I penuh kasih dan berkuasa, dengan semena-mena pake nama I buat pertaruhin nama baik I untuk kepentingan u sendiri..” 

Begitu lah kurang lebih nya..
Jadi, dari penulisan pembacaan pengalaman pribadi saya kali ini, saya ingin men-sharingkan pembelajaran yang didapat dari kegagalan, yaitu: jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa kegagalan yang terjadi atas diri kita semuanya adalah rancangan baik Tuhan yang terlapisi dengan banyak masalah di awalnya, dan berakhir selalu dengan manis. Meskipun terkadang Tuhan memang mengijinkan ujian itu datang, namun juga tidak menutup kemungkinan bila kejatuhan tersebut sebagian besar adalah didistribusi oleh diri kita sendiri. 

Tetapi tetap ingtlah bahwa Tuhan memang tidak akan membiarkan anda tetap berjalan di jalan yang salah. Dia akan menegur kesalahan kita yang terfatal sekalipun.. dan Dia mau mengampuni dan membangkitkan.

-God does not hold a grudge, and he has always been on our side to justify us-