Friday, July 6, 2012

Reflection of Life


 Reflection of Life

Pernah suatu malam saat saya sedang memejamkan mata berusaha untuk tidur, diiringi dengan alunan musik, tiba-tiba bibir saya tergigit, dan rasanya cukup sakit. Darah pun sampai keluar..
Sungguh membuat bingung dan kaget, saya yang sedang dalam posisi diam dan tenang, serta masih dalam keadaan sadar, bisa tiba-tiba mengalami hal tersebut. Sungguh luar biasa aneh menurut saya.

Akhirnya saya tidak jadi bisa tidur cepat, karena memikirkan “ada apa ini? ko bisa?” sambil menahan rasa sakit. Tak heran apabila banyak orang biasa tergigit bibirnya saat mengunyah makanan.
Sejenak saya memikirkan kejadian itu, saya mendapatkan sebuah pencerahan atau apalah itu istilahnya.
Bahwa sebenarnya peristiwa ini mau menggambarkan bagaimana kehidupan yang dijalani manusia. Manusia baik yang pasif maupun yang aktif dalam bekerja, suatu waktu pasti akan mengalami kegagalan. Bedanya adalah terletak pada apakah orang tersebut gagal dengan sudah menerima pengalaman sebagai pembelajaran mereka di masa depan atau belum.

Bagi mereka yang pasif:
menjalani kehidupan dengan monoton, tidak berani mengambil tantangan dan peluang untuk menjadi lebih baik, malas belajar hal baru, memilih dalam zona aman tanpa melakukan improvisasi integritas. Suatu saat ketika masalah datang, dan membawa kegagalan pada karirnya, kemungkinan dia untuk bangkit dengan segera adalah cukup sulit. Mengapa? Karena pengalaman yang ia miliki masih belum banyak atau bahkan tidak ada. 

Berbeda dengan mereka yang aktif,
Bagi mereka yang aktif:
menjalani kehidupan dengan semangat, dapat melihat peluang, dan berani mengambilnya, mengeksplor kemampuan yang dimiliki, menikmati setiap pengalaman kehidupannya. Apabila ia mengalami kegagalan, dia tidak butuh waktu lama untuk pulih kembali membangun karirnya. 

Jadi, anda lebih memilih untuk tergigit bibir saat anda diam atau saat anda makan?
Kalau saya sih lebih pilih saat saya makan.. karena saya sudah menikmati makanannya..daripada saat diam tapi sama-sama ada probabilitas tergigit.. haha


-you apply a passive or active, you still will fail one day, but you will get more benefits if you have enjoyed your active business first-

Thursday, July 5, 2012

Inspiration Comes From Whoever, Whatever, and Wherever


Inspiration Comes From Whoever, Whatever, and Wherever

Senangnya memiliki peliharan yang bisa memberi banyak penghiburan, dan juga bahkan inspirasi untuk saya menuliskan kehidupan mereka di blog ini.
Kali ini akan saya akan membagikan 2 inspirasi yang saya dapat setelah saya bermain-main puas dengan anjing-anjing saya, setelah telah beberapa waktu lalu saya pernah sempat juga menuliskan 1 kisah inspirasi yang juga didapat dari mereka.

Baiklah, dimulai dari inspirasi yang pertama:
Saya menyadari bahwa anjing-anjing yang saya miliki adalah anjing-anjing pilihan. Kenapa? Karena kami sekeluarga memilih mereka dari antara beberapa saudara kandung mereka lainnya yang sebenarnya adalah lebih bagus dan tidak memiliki kecacatan dibanding anjing yang kami pilih ini.
Anjing pertama saya memang tidak kami pilih, karena itu pemberian dari seorang kenalan.
Anjing keturunan pertama adalah mengalami kesulitan jalan sewaktu masih kecil, sementara saudara-saudaranya lancar berjalan, dan warna bulunya lebih bagus dan bervariasi.
Anjing keturunan kedua begitu penakut jika harus bertemu manusia lain, berbeda dengan saudaranya yang ramah dan senang saat bertemu orang lain yang belum dikenalnya sekalipun.
Anjing keturunan ketiga sedikit mempunyai kecacatan, syarafnya tidak berfungsi normal, sehingga sewaktu dia masih bayi, kami terpaksa harus selalu membantunya mengarahkan dia agar bisa menyusu pada induknya, juga sebelah matanya sedikit buta.
Kami sekeluarga memilih mereka yang tidak sesempurna dibanding saudara-saudara mereka yang lain karena berbagai alasan dan pertimbangan, dan kami mencintai mereka sebagaimana mereka adanya. Kasih sayang kami pada ke-empat anjing itu begitu tulus. Mereka begitu berarti bagi kami.

(nb: anjing lainnya yang tidak dipilih tadinya adalah anjing kami, namun terpaksa diberi kepada orang lain untuk merawatnya, karena kami cukup kewalahan memelihara dalam jumlah banyak)

Disini saya berpikir bahwa, Tuhan memilih saya dan orang-orang lainnya, dengan alasan dan pertimbangan yang tepat. Sekalipun banyak orang diluar sana yang memiliki kemampuan yang lebih hebat, dan hal yang dapat dibanggakan menurut pendapat berbagai pihak, tetapi Tuhan dengan yakinnya memilih dan tidak pernah menyesali umat pilihanNya. Ia juga mengasihi semuanya dengan begitu tulus, mendampingi dengan setia, tidak menuntut banyak hal dari umatNya kecuali taat pada perintahNya dan selalu percaya. Bahkan dengan kuasaNya yang ajaib, Ia akan membuat umatNya lebih dari pemenang.

Inspirasi yang kedua:
Ketika saya membagikan jambu kepada ke-empat anjing saya, anjing yang paling kecil selalu paling lahap makannya, paling cepat, dan bahkan sesekali merebut jambu bagian anjing senior lainnya. Tak jarang ia mencari-cari sendiri jambu yang jatuh dari pohon. Tingkahnya yang lucu selalu membuat saya tertawa geli, dan gemas sekali dengannya.

Melihat anjing kecil saya seperti itu, saya merasa semangat memberi dia lebih banyak jambu lagi, karena begitu bahagia melihatnya menikmati jambu itu, terlihat ia begitu bersyukur dengan jambu yang dibagikan.. namun terkadang saya harus menghardiknya ketika saya melihat dia melahap jatah jambu milik yang lain, dan mengarahkannya pada jambu milik dia sendiri, juga bahkan saya akan berhenti memberinya jambu ketika saya rasa dia sudah makan banyak, meskipun dia terlihat masih mau sekali, karena saya tidak ingin dia terlalu kekenyangan, dan nantinya sakit.

Dari pengalaman ini, saya mendapati inspirasi kedua, yaitu ijinkan saya coba melihat hal ini dari sisi Allah Bapa. Tuhan senang jika melihat manusia bahagia dengan berkat yang dimilikinya, Tuhan akan memberikan berkat lebih bagi mereka yang bisa menikmati dan mensyukuri berkat yang diterimanya, yang mau berusaha selalu mencari dan mengejar kesempatan, tidak menunggu kesempatan. Namun Ia juga terkadang seperti menahan sementara berkatNya, dengan tujuan membatasi perilaku kita sebagai manusia yang tidak pernah puas, agar kita tetap beriman mengandalkan Dia sepenuhnya, dan tidak serakah dengan mencuri jambu milik orang lain. 

Inilah kisah inspirasi saya bersama dengan teman-teman hebat saya. 

 -The Lord will use anything to give us a reason to be always grateful to enjoy the blessing-

Wednesday, July 4, 2012

Judge Others by Knowing Them First


Judge Others by Knowing Them First

Pembahasan kali ini saya dapat dari memory saya akan pengalaman masa SMA..

Di hari pertama, guru kesenian, seorang pria yang tidak muda lagi usianya, dengan postur tubuh kecil dan tidak begitu tinggi, datang ke kelas dan memulai perkenalan, lalu mengajar. Selama pelajaran berlangsung, beliau tidak pernah sekalipun mengeluarkan tangan kirinya dari saku celana. Beliau hanya menggunakan tangan kanannya untuk melakukan gerakan tubuh sebagai alat bantu menyampaikan materi. 

Setelah beberapa puluh menit berlalu, saya dan murid-murid yang lain menyadari hal itu, dan jujur saja lama-lama saya sebal juga melihatnya. Saya berpikir, mengapa guru itu begitu malas mengeluarkan tangan kirinya dari saku celana? Apakah dia begitu gugup mengajar di depan muridnya? Atau dia merasa cukup keren dengan gaya nya seperti itu?

Tak lama setelah saya berpikir demikian, teman di belakang saya berbicara setengah berbisik “alah tuh guru tangannya di simpen di celana terus kaya ga punya tangan aja!”..
saya no comment.. 

Setelah lebih dari 1 jam seperti itu, kemudian beliau mulai menggambar di papan tulis, juga barulah tangan kirinya dikeluarkan. Dan.. begitu luar biasa kagetnya saya dan semua teman-teman, mendapati kenyataan bahwa guru kesenian kami itu ternyata tangan kirinya cacat, tidak ada jari..

Teman di belakang saya pun yang tadi sempat mengejek diam-diam tersentak kaget,dan membisu seribu bahasa. (kami semua sebelumnya tidak ada yang mengetahui perihal kekurangan guru kami).

Namun beliau tetap terlihat begitu tenang melihat tatapan kaget seisi kelas, dan beliau tidak berkata satu kata pun mengenai kecacatan nya itu. Beliau melanjuti pengajarannya hingga pelajaran usai, dan begitu pun pada pertemuan-pertemuan berikutnya. 

Tidak pernah satu sesi pun membahas tentang kelemahan yang dimilikinya, dan tak ada pula murid yang berani menanyakan mengenai kecacatan tangan kirinya tersebut. Tetapi beliau selalu mengajar dengan begitu professional, dan menurut saya, dia adalah guru kesenian paling hebat diantara guru-guru kesenian saya yang lain yang pernah mengajar saya. 

Dari pengalaman ini saya mendapat sebuah pelajaran yang begitu berharga bahwa kita tidak seharusnya menilai buruk orang lain tanpa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya terjadi.

- things that we do not know sometimes make us guessing like a fool -