Saturday, May 5, 2012

What Money Can Be



What Money Can Be

Saya menemukan kegilaan di dunia ini, yang dimana anak masih begitu haus akan harta warisan orangtuanya. Ribut memperkarakan harta warisan orang tuanya, yang apalagi jika orang tuanya masih hidup. Itu benar-bnera suatu hal memalukan juga insane. Apalagi jika yang memperkarakan nya itu anak-anak yang sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Baik yang sudah menjadi orang kaya maupun yang berkekurangan, tidak ada yang mau mengalah. Terlebih lagi jika yang sudah kaya masih mau pembagian harta warisan yang lebih banyak bagi dirinya, setidaknya tidak boleh kurang dari saudaranya yang berkekurangan. Serakah sekali.. 

Rasa persaudaraan dan kasih kepada orangtua yang rendah, sungguh memprihatinkan.
Uang bisa membuat orang menjadi buta. Pantaslah apabila orang kaya diumpamakan dengan lebih mudah seekor unta untuk masuk ke lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga. 

Menurut saya, harta orangtua adalah otoritas orangtua sepenuhnya, terserah uang itu mau diapakan, anak tidak boleh menuntut banyak. Yang mencari uang itu kan orangtua, uang orangtua adalah uang orangtua, uang anak beda lagi (kalau sudah dewasa, bekerja, dan mapan). Untuk apa kuatir begitu besar dengan berkat kita sendiri? Sehingga takut apabila tidak kebagian harta warisan?
Jauh lebih bijaksana apabila semua anak di dunia menyadari bahwa berkat orangtua dengan berkat anak itu sudah diatur oleh Tuhan sedemikian rupa, tidak perlu takut dengan masa depan. 

Uang tidak bisa membeli kebahagiaan.. saya setuju.
Tapi tanpa uang apalagi.. saya juga lebih setuju sekali.

Kalau begitu bekerja pintar dan bekerja keraslah supaya mendapat uang sendiri, bukan bekerja keras mendapatkan uang milik orangtua.
Dan yang tidak boleh dilupakan, apabila anda sudah menjadi orang yang berlimpah dengan berkat materi, gunakanlah uang itu secara bijaksana, pergunakan untuk kemuliaan Tuhan, menyejahterakan orangtua, membangun saudara yang kesulitan, memberkati orang lain juga.
Uang tidak akan dibawa mati kan?! 

Saya senang dengan sebuah cerita inspiratif yang berkisah tentang seorang muda yang dengan giat setiap hari mengumpulkan uang terus menerus, dari matahari belum muncul sampai bulan menampakan dirinya. Begitu giatnya pemuda itu mengumpulkan uang, tidak peduli seberapa letih badannya, ia tetap terus bekerja. Sampai dia jatuh sakit dan akhirnya mati. Uang yang dikumpulkan nya dengan susah payah akhirnya hanya dinikmati oleh orang-orang disekitarnya, tanpa si pemuda itu pernah menikmati sedikitpun hasil keringatnya itu. 

Kisah ini mengajarkan bagaimana kita sebagai manusia untuk tidak haus akan harta, harus menyeimbangkan dengan mengasihi Tuhan dan bersosialisasi dengan sesama.

Mama juga pernah berkata jika kami 3 bersaudara harus saling menopang satu sama lain, tidak boleh pelit, bantuin yang seandainya ada ekonominya kurang baik, meskipun mama berharap dan minta sama Tuhan jika kami semua jadi orang sukses, ga ada yang susah. Saudara-saudara juga bantuin, jangan simpen kekayaan sendiri, jangan jadi orang sombong kalo uda sukses. 

Saya sangat suka dengan “wejangan” mama yang bilang kalo  kita bantuin harus tulus, jangan berharap imbalan, kalo saudara kamu ada yang susah, jangan bantuin dia cuma dengan kasih uang 1 juta, 2 juta, 5 juta, bantu danain dia buat buka usahanya sendiri. Kenapa? Karena kalo kamu cuma bantu uang 1 juta, 5 juta, itu uang nanti lama-lama juga bisa abis, kalo kurang saudara kamu harus terpakasa jadi minta tolong lagi kan.. (kaya BLT oleh pemerintah lama-lama juga abis). Bangunin usaha buat dia kelola, biar uangnya bisa dilipat gandain.. jangan pelit, jangan berharap dia balikin uang kamu. 

Kumpulin harta di Surga, alias kumpulin harta kebaikan hati, bukan kumpulin harta di dunia.
Harta di dunia sebanyak apapun kalo uda kebakar itu lenyap, kalo uda ada krisis moneter itu habis. 

-money can be a tool to do good things and bad things depend on the users intention-

Parents Love vs Children Love


Parents Love vs Children Love

Baru kemarin saya membaca sebuah artikel di koran yang menanyakan bahwa apakah dosa jika ia menitipkan ibunya ke sebuah panti werdha (panti untuk orang tua lanjut usia)? Masalah yang diutarakannya adalah: dia tidak memiliki waktu luang yang cukup banyak, dia harus mengatur kebutuhan rumah tangganya, melayani suami, mengurus anaknya yang masih kecil, belum lagi dia harus pergi kerja di kantor. Waktunya tersita untuk mengurusi hal-hal seperti itu, sehingga hidupnya terasa begitu sibuk, tidak sempat bila harus meluangkan waktu untuk merawat ibunya yang sudah lanjut usia. Tenaganya sudah habis terbuang untuk meng-cover seluruh aktivitas rutinnya tersebut. sehingga ia berniat untuk menaruh ibunya di panti werdha, dengan alasan agar ada yang bisa membantu menjaga dan mengurusi.

Jaman sekarang, sudah tidak jarang lagi apabila seorang anak menitipkan orang tua mereka dipanti werdha / panti jompo, dengan alasan yang mayoritas pasti sama seperti kasus di atas.
Sebenarnya, apa guna mereka hidup di dunia ini?
Merawat orangtua saja sampai tidak sempat?? Apakah bisnis mereka jauh lebih penting dari orang tua mereka? Sehingga mereka bisa terpikir untuk menitipkan orang tua mereka sendiri untuk orang lain yang tidak sedarah daging untuk merawat orang tuanya?
Apa fungsi dan kewajiban anak yang masih dilakukannya?

Tidak sadarkah mereka apabila mereka pasti tidak akan ada di dunia ini jika tidak dilahirkan oleh orang tua mereka ke dunia ini?
Buat apa mereka begitu bangga dengan bisnis mereka, pekerjaan mereka, rumah tangga mereka, tetapi tidak dengan orangtua mereka?
Saya bersyukur sekali karena Tuhan telah mengatur saya untuk hadir di dunia ini dengan keluarga, orang tua yang begitu bijaksana dan menyanyangi saya dengan begitu luar biasa. Orang tua saya selalu mengajarkan kepada anak-anaknya untuk selalu mengutamakan Tuhan dan keluarga. Saya rasa, tidak jarang pula orang tua di dunia ini yang mengajarkan hal serupa.Hanya saja sayangnya, tidak jarang pula yang tidak terlalu peduli dengan hal pokok ini. 

Sekarang saya ingin mengilustrasikan, berdasarkan dari kejadian nyata yang benar-benar terjadi, bagaimana besar dan jauhnya kesenjangan antara kasih sayang orang tua kepada anak,dengan kasih sayang anak terhadap orang tua:

Jika orang tua kita kaya, sudah tentu yang menjadi raja adalah anaknya. Sedangkan jika anak kaya, orang tua bisa jadi pembantunya. Mau contoh?  Banyak..
Tidak usah jauh-jauh, lihatlah handphone yang anak pakai, dengan yang orang tua pakai..
Anak menggunakan handphone yang up-to-date, kalo bisa pake model yang paling baru, teknologi tercanggih, kamera berapa mega pixel, bisa internetan cepat, BBM an, 3G, touchscreen, dan aplikasi-aplikasi wah lainnya…. Orang tuanya? Pakai handphone yang biasa saja, yang penting bisa buat telepon dan sms sudah cukup, model masih jadul ga masalah, tombol pencetannya longgar no problem, lampu handphone nya redup  it’s ok, ga bisa internetan apalagi.. teruskan..! hha

Mobil yang digunakan: anaknya pake mobil Jaguar, Porche, Mercedes Benz, Bugetti, Audi, Mini Cooper, harganya uda Milyar an punya, ini orang tua nya? Paling oke juga Nissan Juke, Suzuki Vitara, Toyota Rush, yang harganya kalah seri dari mobil si anak, padahal itu belinya pake duit orang tuanya.. 

Orang tua kalau punya uang lebih, kepikirannya ngajak jalan-jalan sekeluarga, bareng anak-anaknya biar anaknya seneng.. Kalo anak punya uang lebih dikit aja, lebih milih pergi seneng-seneng bareng temennya. Pikirannya kalo bareng orang tua itu ga seru.. ga bisa becanda heboh kaya kalo bareng temen-temennya. 

Yang sakit lagi kalo orang tua punya gaji, 99% uangnya dipake buat kebutuhan rumah tangga, bahagiain anak. Kalo anak punya gaji pertama, ga sedikit yang mereka buang buat traktir makan-makan temennya, apalagi kalo uda punya pacar, beliin deh tuh pacarnya cincin, kalung.. Orang tua? Ntar dulu ya kalo masih ada sisa.. Malah kalo kurang masih nagih juga uang jajan dari orangtuanya.
Eh, baru beberapa bulan kerja, belom kasih banyak kesenangan buat orang tua, uda minta nikah lagi! Uda deh uangnya makin ngalir buat istrinya, keluarga barunya. Orang tuanya? Boro-boro diprioritasin.. Bagus kalo masih anaknya inget n mau kasih uangnya buat orangtua. 

Jika orangtua sukses, anak ikut dibanggain. Kalo anak sukses? Orang-orang taunya si anak tersebut adalah orang hebat, jarang banget kan ada yang sadar dan bilang “orangtuanya hebat banget bisa bikin anaknya jadi orang sukses kaya gitu..”, yang buruk biasanya baru deh tuh orangtua ikut keseret-seret nama baiknya. 

Ketika kekuatan fisik orangtua sudah melemah, dan anak mulai berpenghasilan dan bekeluarga, tidak jarang pula orangtuanya berada di rumah sekedar sebagai penunggu rumah, membersihkan rumah si anak, begitu si anak liburan, si anak mengajak istri beserta anak-anaknya untuk pergi vacation ke luar kota atau pun juga luar negeri. Orangtuanya? Nanti ya, tunggu terkumpul uang lebih banyakan lagi.. Alhasil intensitas jalan-jalan bersama anak istri dibanding sama orangtuanya bisa 5 : 1.

Entah sudah berapa kali mama saya mengatakan: “awas kamu ya kalo sampe nanti papa sama mama uda tua kamu taro dipanti jompo, bisa mama kutuk kamu semua.. (hha) Kamu coba perhatiin, orangtua punya anak sampe 9, 10, 13, serepot-repotnya orangtua, semua anaknya bisa dijaga, dirawat sampe pada gede-gede, ga ada yang mati kelaperan.. Tapi ada anak sebanyak apa pun, belum tentu ada yang bisa ngerawat orangtuanya yang cuma berdua…. Yang namanya orangtua kalo uda ditaro dipanti jompo tandanya anaknya ga mampu kan tuh ngurus orangtuanya? Ga sayang mereka ke orangtuanya, malah mikirin bisnis sama keluarganya sendiri-sendiri.. padahal tanpa orangtua yang ngedidik mereka, mereka ga mungkin bisa ada sampai sebagaimana mereka ada sekarang.”
I couldn't agree more!

Kembali ke kasus pertama kali saya bahas.. orang tuanya mau dimasukin panti wreda..
Saya heran dengan orang yang punya pemikiran sampai disitu..
Apakah waktu dia masih kecil, dia dititipkan juga oleh orang tuanya di panti asuhan? Atau dititipkan ke orang laen buat diurusin? Sampe-sampe rasa sayang ke orang tuanya kecil begitu..

Dengan alasan kesibukan, itu memang bisa dibenarkan bila dia tidak memiliki waktu luang yang cukup untuk mengurus seluruh aktivitas kehidupannya, tapi, bisakah dia berpikir lebih bijaksana?
Jika dia merasa sungguh sibuk sampai tidak sempat merawat orangtua nya, bukankah lebih baik baginya untuk berhenti kerja saja? Tinggalkan kerjaan yang paling banyak menyita waktunya, alokasikan waktu kerja dia untuk mengurusi hal-hal yang lebih bermanfaat dan mulia, untuk merawat orangtuanya di rumah, alokasikan untuk menemani anaknya bermain.. toh suaminya sudah bekerja juga. 

Bagaimana jika suami bekerja tidak menghasilkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya? Maka saya dengan senang hati mengambil kata dari bapak Mario Teguh yang berkata: “buat suami anda jadi memiliki semangat kerja yang lebih tinggi lagi, dan buat dia berpenghasilan berkali-kali lipat dari sebelumnya.” Lebih baik apabila bekerja 1 orang menghasilkan pendapatan yang besar, daripada 2 orang bekerja dengan penghasilan pas-pas an. Guna istri kan sebagai pembantu suami, berarti istri itu lebih kuat kan dari suami dong.. namanya juga pembantu, orang yang membantu itu lebih kuat dari yang dibantu kan..? 
Jika seorang wanita memiliki passion yang besar untuk menjadi wanita karir, tentu tidak buruk, yang penting orang tua tetap menjadi perhatian utama. 

Saya harap, khusus untuk saya pribadi, dan teman-teman generasi muda semuanya, tidak akan menjadi anak yang kurang ajar dan tidak tau diri. Tidak menjadi anak yang durhaka. Orangtua tetap menjadi prioritas kedua setelah Tuhan. Tidak ada yang boleh menggeser posisi keduanya itu sampai kapan pun. Saudara adalah yang ketiga. 

- Love your God and parents above anything-

Wednesday, May 2, 2012

Beauty


Beauty

Banyak sekali orang yang selama ini tidak puas dengan penampilannya, baik dari wajah maupun postur tubuh.
Orang yang gemuk merasa malu karena ukuran tubuhnya yang lebih besar dari postur tubuh ideal, orang yang kurus tidak menyukai dirinya yang terlihat seperti orang kurang makan. 


Orang yang berwajah tidak indah (menurutnya dan beberapa orang lainnya) kesal karena dia tdak memiliki wajah yang elok supaya banyak orang yang tertarik kepadanya, orang yang berwajah biasa-biasa saja juga tidak terlalu bersyukur, orang yang tampan atau cantik sekalipun, masih sering tidak puas dengan kelebihannya itu ketika melihat ada orang lain yang menyaingi ketampanan atau kecantikannya.

Manusia itu bukan makhluk yang cepat puas adalah sebuah kenyataan tak dapat disangkal.

Operasi plastik sudah banyak dilakukan untuk membuat penampilan seseorang menjadi terlihat lebih baik dan menarik.
Sebenarnya apa sih yang orang cari dari penampilan indahnya?


Pernahkah mereka berpikir perasaan orang yang cacat? 
Yang tidak bisa mempercantik diri meskipun mereka menggunakan alat bantu yang membuat mereka terlihat menjadi lebih normal. Yang melakukan segala macam operasi untuk memperbaiki kekurangannya, tapi hasilnya tidak selalu memuaskan. Mereka ingin tampil indah dilihat, tetapi mereka tidak berdaya untuk mendapat perhatian lebih. 

Kehadiran mereka sebenarnya adalah sebuah anugerah tersendiri bagi orang-orang yang normal secara fisik. Daripada memperbaiki penampilan luar, lebih baik untuk memperbaiki penampilan dalam (hati dan pikiran).
Kecantikan / ketampanan itu relative. Sampai kapan pun, sebesar-besarnya usaha yang kita lakukan untuk menjadi yang terbaikdari semua orang yang ada dalam hal penampilan, itu tidak akan pernah bisa. 
Seperti langit di atasnya ada langit lagi dan langit lagi. Tidak akan ada akhirnya. 

-be thankful with all you have, because if you dont, you are destroying yourself-

Tuesday, May 1, 2012

Couple & Love


Couple & Love 
Yang namanya cinta, kata orang itu buta, tuli juga iya..
tandanya orang yang jatuh cinta mayoritas pada cacat dong..? haha*kesimpulan sederhana
Soal cinta saya memang belum pernah terjun langsung di lapangan. Saya belum pernah merasakan rasa berbagi cinta dengan pasangan (lawan jenis). Sebenarnya itu bukan hal yang besar juga memalukan. Buat saya, yang namanya single alias men-jomblo itu menyenangkan, dan suatu hal yang cukup membanggakan (mungkin karena merasa masih mahal coy karena belum pernah ada yang memiliki, kalo mobil sih istilahnya masih baru, belum second hand, third hand, atau juga kreditan.. (loh?)  haha)

Hanya saja, kata cinta itu sering sekali terdengar dari berbagai sumber, media, pernyataan, dan sebagainya. Setiap hari malah.. jadi, saya kali ini ingin coba “ikut-ikut an” berpartisipasi memberikan pandangan saya mengenai cinta, walaupun hanya sebagian kecil saja. Sebenarnya jika saya membahas ini sebagai seorang yang belum berpengalaman, itu tidak terlalu buruk. Kenapa? Karena saya bisa menjabarkannya secara objektif, dan dengan normal, bukan cacat. Haha

Dunia ini berisi dengan cinta. Kekuatannya itu berskala besar, berdampak luas dan bermakna dalam.

Jika saya bisa mendefinisikan apa itu cinta? Maka saya akan merumuskannya ke dalam 3 kata:
komitmen, kejujuran, ketulusan.

Menurut saya, jika seseorang ingin mencintai, itu adalah sebuah inisiatif yang disepakati dengan pengambilan keputusan, dan sempurna apabila disertai dengan komitmen yang kuat.
Couple (pasangan) yang baik adalah pasangan yang bisa saling menguatkan, menyempurnakan, dan memberi suasana kehidupan lain yang menyenangkan dan unik. 

Hanya saja, yang namanya hubungan antara 2 lawan jenis ini, tidak akan mudah apabila terdapat banyak perbedaan antara keduanya, seperti: perbedaan ras, adat-istiadat, agama.
Ketika seorang sedang jatuh cinta, tak jarang perbedaan yang signifikan itu diabaikan. Mereka menganggap bahwa cinta itu menerima kekasih dengan apa adanya, tanpa alasan apapun, tidak peduli dengan perbadaan-perbedaan yang ada.(pantaslah orang berkata kalau cinta itu buta dan tuli)

Padahal menurut pengamatan saya, mengabaikan perbedaan yang ada adalah suatu kesalahan yang besar, dan sangat sulit ditolerir. Sekarang saya coba bijaksana (andai berhasil):

Apabila anda menemukan seseorang yang menyatakan bahwa dia mencintai anda dengan  sepenuh hati, jangan lekas jatuh cinta padanya.
Mengapa? Karena tandanya dia melupakan kasihnya kepada Tuhan dan keluarganya.
*Jika seseorang hanya memfokuskan cintanya pada anda, bagaimana ia bisa lebih peduli dan cinta kepada pihak yang semestinya diutamakan, sulit memprioritaskan sesuatu yang penting dengan benar.

Apabila anda menemukan seseorang yang mencintai anda segitu besarnya, sehingga rela bertentangan dengan pandangan dan pendapat orang tua nya dan memilih untuk membela anda dengan segala cara, jangan biarkan dia mencintai anda.
Mengapa? Karena dengan anda membiarkan dia mencintai anda, berarti anda membiarkan dia melakukan dosa besar.
*Jika seseorang berani menentang pendapat orang tuanya, tandanya kelak dia tidak akan segan juga menentang pendapat anda di kemudian hari saat anda sudah menjadi miliknya. Orang tua yang mengurusnya dan membiayai sejak dari bayi hingga dewasa saja dia tidak hormati, apalagi anda yang baru dikenalnya setelah sudah dewasa.

Apabila anda menemukan seorang yang mencintai anda dengan rela meninggalkan agamanya, jangan pernah memilih dia untuk menjadi pasangan hidup sejati anda.
Mengapa? Karena dia tidak akan pernah menjadi kekasih yang menghargai anda, dan dia sesungguhnya adalah pengkhianat.
*Tuhan yang menciptakan, melindungi, memberkati nya  saja bisa dia tinggalkan, jual cintanya terhadap pengorbanan Dia yang menebus dosa nya, apalagi anda yang hanya manusia biasa? dia bukan orang yang setia.

Mencintai / mengasihi yang sebenarnya adalah tidak akan pernah bertentangan dengan ajaran-ajaran Tuhan.
Jika anda ingin menilai sejauh mana kualitas mengasihi yang anda miliki, itu mudah saja..
Lihatlah apakah anda sudah mengikuti aturan main mengasihi yang diajarkanNya atau belum.

                                            - love is not forced and does not expect a reply-



Sunday, April 22, 2012

There are Lessons Behind the Failures

There are Lessons Behind the Failures

Rasa putus asa sepertinya rajin sekali mengusik hidup saya. Terakhir kali saya berputus asa yaitu pada pembagian hasil study semester 3. Dimana saya meyakini bahwa saya tidak akan mengulang pelajaran Akuntansi Manajemen 1, karena saya cukup mengerti, dan juga dosennya cakap dalam mengajar, serta sepertinya tidak irit dalam memberi nilai.. kebalikannya, saya malah sungguh kuatir dengan nilai Manajemen Keuangan Lanjutan, saya kuatir jika saya harus kembali mempelajari mata kuliah yang cukup menantang tersebut, dimana jika saya harus mengulang pelajaran MKL tersebut, otomatis saya akan menunggu setahun lagi untuk mengambilnya, karena pelajaran itu ditempuh saya dalam pelajaran non-regular class. Terbayang rasa lelah saya nanti. 

Saya berdoa setiap malam selewat ujian akhir, berharap saya tidak mesti mengulang MKL itu, karena jika itu tidak mengulang, saya yakin, semua pelajaran lainnya itu nilainya tidak ada yang jatuh, dan saya berhasil menoreh IP yang cukup baik. 

Setelah sekitar hampir sebulan, maka dapat dilihatlah hasil study semester 3 itu. Dengan harap-harap cemas, saya membukanya by online. Untuk melihatnya saja saya perlu menahan nafas, karena begitu besarnya rasa kuatir. Dan… sungguh saya kaget sekali, karena nilai MKL saya lulus dengan nilai cukup baik, tapi Akuntansi Manajemen saya yang awalnya sungguh saya yakini berhasil dengan nilai baik, malah saya kena harus mengulang lagi, Karena tidak memuaskan.

Perasaan senang dan putus asa bercampur jadi 1. Saya bahagia, juga kecewa berat. Perasaan itu seperti hampa, tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata puitis sekalipun.
Apa yang tidak saya kira, saya mendapatkannya. Dua sisi yang bertolak belakang. Seperti mimpi manis yang terbangun karena ada gempa bumi. 

Saya bersyukur pada Tuhan karena telah mengabulkan doa saya tentang hasil MKL yang tidak buruk, dilain sisi pikiran saya penuh dengan tanda tanya yang besar, kenapa tragis dengan Akmen saya..?! apa yang salah? Saya tidak merasa telah menganggap enteng pelajaran itu, saya belajar dengan waktu yang banyak untuk latihan soal Akmen itu. Tapi.. KENAPA??? 

Saya ingin sekali menangis kecewa, tetapi saya tidak bisa.. karena pengharapan saya pada MKL sudah terwujud.. Jika anda pernah mengalami hal seperti ini, pasti tau bagaimana rasanya. Saya mencoba untuk tetap bertahan dalam pikiran positif saya, sungguh sulit..

Kata-kata setan yang mengintimidasi saya dengan kuatnya: “kamu bodoh, kena ngulang.. malu-maluin banget sih.. katanya kamu anak Tuhan, kenapa kamu malu-maluin Dia? Bukannya kamu yakin kalo Dia, Tuhanmu, Yesus Kristus itu mampu membuatmu jadi kepala dan bukan ekor? Kan kalo kamu ngulang nih pelajaran, semua orang jadi bisa liat kamu tuh ga qualified.. mending juga kamu jangan ngaku anak Dia deh.. buat malu aja tau! kuasaNya yang besar ga keliatan deh gara-gara kamu..”

Kata-kata itu terus bergema di kepala saya.. ingin rasanya meledakan nya pake dinamit khusus penangkal tuh intimidasi.. tapi, inilah saya manusia, saya tidak mampu membela diri.. saya merasa kata-kata itu memang benar.. kegagalan saya membuat Tuhan jadi kecewa. Saya melihat sekeliling saya, teman-teman dekat saya di kampus, mereka yang beriman pada Tuhan, memiliki prestasi yang luar biasa.. tampaknya, mereka benar-benar berhasil membuat Tuhan bangga. 

Malu dan kesal rasanya kalo inget-inget saya kayanya ga kasih kontribusi apa-apa buat kemuliaan Tuhan.. Tuhan yang selalu nolong saya.. sabar banget gitu ngurusin saya yang ga berharga ini. Saya bahkan belum menemukan apa kelebihan saya, sehingga beberapa orang bisa cukup suka jika berbincang dengan saya, dilain pihak, jika ada sesuatu yang sedikit tidak mengenakan, terkadang mereka juga suka dengan bercanda dengan berkata: “ ini ketularan Nesia..”
Jika mood saya sedang baik, maka saya menanggapinya dengan biasa-biasa saja, bahkan saya ikut tertawa, tetapi jika mood saya sedang kurang baik, maka saya akan berpikir : segitu buruknya kelakuan saya selama ini ya.. Mungkin ada baik juga jika saya sedang mood kurang baik, karena saya bisa jadi orang yang sadar.. hha.. pernah ada yang mengatakan bahwa saya adalah orang yang moody. Dan saya akui itu memang benar. Itu kelemahan diri yang sulit diatur..

Kembali pada masalah intimidasi tadi, saya men-sharingkan nya dengan kawan seiman di kampus, kemudian dia berkata: “kamu jangan ngeliat ke atas terus dong.. kamu pinter ko.. coba kamu liat sekeliling kamu, banyak yang IP nya di bawah kamu.. lebih banyak dibanding yang di atas kamu. emang kamu bergaul sama orang-orang yang pinter di kampus ini, syukurin lah, itu bisa jadi acuan kamu. “ (kurang lebih seperti itu pembicaraannya)

Jika saya mendengarnya, saya bisa saja men-persepsikan nya ke dalam 2 bentuk:
1. Saya tidak cukup tangguh untuk bersaing dengan orang-orang pintar tersebut
2. Saya terlalu banyak membandingkan diri dengan orang lain, sehingga sulit untuk bersyukur dan terus stuck tanpa perkembangan signifikan

Saya tau, bahwa saya tidak boleh memperlakukan diri sendiri dengan hina. Karena Tuhan sudah memberikan hidupNya buat saya, kenapa saya harus menjerumuskan diri saya sendiri dengan memilih mendengarkan intimidasi setan itu? Dengan terus kecewa, saya tetap saja tidak akan bisa merubah masa lalu kan? Saya hanya bisa memperbaikinya di masa yang akan datang, ketika masih ada kesempatan.
Saya sepenuhnya yakin, bahwa setiap kejatuhan yang saya alami itu semua bukan karena Tuhan tidak memiliki kuasa lebih untuk menolong saya, tetapi itu karena salah saya sendiri, dan juga itu adalah sebuah pengasah kualitas hidup supaya saya jadi lebih baik lagi. 

Orang yang berhasil adalah orang yang pernah tau bagaimana kegagalan itu, dan kegagalan ada karena keberhasilan pernah dirasakan sebelumnya juga kan..
Maka dari itu, dari hasil sharing bersama teman saya itu, saya memutuskan untuk mengambil persepsi saya yang kedua, saya tidak ingin memiliki pikiran yang negatif dan menjadi musuh bagi diri saya sendiri. Kemudian berusaha untuk melakukan improvisasi dalam sistem belajar saya yang mungkin selama ini masih banyak kekurangan. 

Saya juga mendapatkan pelajaran penting dari permasalahan ini: adalah akan lebih baik jika kita tidak memfokuskan diri pada kegagalan kita, tetapi lihat di sisi lain, kesuksesan dan pengaharapan yang terkabul, itu anugrah yang besar.. bersyukurlah..

-this life to be thankful for, not to be cursed-

Songs that Define your Feelings

Songs that Define your Feelings


Ketika seseorang merasa sedih, pada umumnya mereka akan mulai mendengarkan lagu-lagu yang bernuansa sedih, begitu juga ketika patah hati, mendengarkan lagu cinta yang berlirik galau.. Pokonya mendengarkan lagu yang sepertinya mampu mewakili, atau juga mengekspresikan perasaan mereka, mengintepretasikannya dengan setepat mungkin. 

Hal itu tidaklah aneh, dan tampaknya sudah menjadi “kebiasaan.” Semakin lama seorang yang sedih itu mendengar lagu “intimidasi diri” semakin lama semakin ia merasa menjadi orang yang benar-benar hancur. Orang yang putus cinta mendengar lagu “pengkhianatan, penyesalan, kepedihan, kemarahan”, akan menjadi semakin kesal dengan kondisi yang dialaminya. 
Hal ini bisa dibuktikan dengan lebih lakunya lagu yang jenis demikian dibandingkan dengan lagu penyemangat, apalagi lagu rohani.. 

Sebenarnya, setelah sekian lama saya mengamati hal seperti ini, saya mendapatkan kesimpulan bahwa perasaan kita bisa tergantung pada lagu apa yang kita dengar. Perasaan kita bisa semakin menjadi terekspolitasi dengan menghayati inti lirik dari lagu yang kita dengar. Dan ini bukan hal yang sepele. Ini adalah hal yang cukup penting untuk diperhatikan. 

Merasakan kepedihan yang berlarut-larut bukan hal yang baik. Tetapi masih banyak orang yang belum menyadari bahwa apa yang mereka lakukan, dalam pembahasan ini adalah mendengarkan lagu sendu atau kemarahan, akan membuat mereka menjadi sedemikian terpuruknya. Bahaya lagi, jika orang yang dalam suasana hati baik, kemudian mendengarkan lagu sedih, ia jadi teringat dengan masa lalunya yang menyakitkan, dan suasana hatinya mendadak berubah menjadi suram.. 

Dulu, saya juga termasuk ke dalam list orang-orang yang kasihan seperti ini. Ketika saya sedih, maka saya akan memilih untuk mendengarkan lagu yang “membantu” saya mewakili perasaan itu, seperti lagu yang menyalahkan diri, lagu kekalahan, kekecewaan, lagu R&B yang sedikit mengandung penghinaan, rasanya lagu itu khusus dibuat untuk orang-orang macam saya. Dan itu menghibur..  dalam kepahitan. 

Namun lama-kelamaan saya merasa lelah dan coba mencari apa sih hal yang buat saya menjadi sedemikian hancur dan gagal sampai berlarut-larut..? setelah saya selidiki, dan merasa cukup yakin dengan hasil penyelidikan saya, yaitu lagu yang saya dengar dapat membentuk kepribadian, akhirnya saya mulai coba membiasakan diri untuk mendengar lagu rohani dan lagu-lagu pembangkit semangat . Dan itu benar-benar terasa jauh lebih baik dan menyenangkan.
Apa yang kita dengar dan kita hayati, itu bisa menjadi alasan kita bertindak menjadi lebih baik atau menjadi lebih buruk. Oleh karena itu, akhir-akhir ini saya merasa begitu prihatin dengan lagu-lagu dunia pada umumnya yang beredar gencar saat ini, yang semakin banyak mengandung arti lirik tentang kegelisahan, kegalauan, dendam, kebencian, merasa ditinggalkan, diabaikan, pencemaran, penghujatan, dan banyak hal negative lainnya. 

Ketika suatu hari teman saya bertanya : “Nes, kamu lebih milih lagunya enak tapi lirik ga gitu bagus, atau pilih lirik bagus, tapi lagunya kurang enak?”, maka saya menjawab: “emang saya mesti milih ya? Saya milih dua-duanya mesti enak dong.. haha.. tapi kalo ga ketemu, tentu saya pilih yang lirik nya bagus.. mengandung penguatan dan penyemangat diri.. tidak masalah kalo musiknya kurang oke, karena yang dapat membangun diri kita itu adalah kata-kata, bukan sekedar musik pengiring..” 

Jadi, menurut saya, akan lebih bijaksana apabila seseorang yang suka mendengarkan musik, mulai mencoba menghindari lagu-lagu dalam konotasi “negative” yang seperti saya jabarkan di atas, dan mulai beralih ke dalam lagu rohani, atau juga lagu-lagu yang mengintepretasikan self motivation. 
Saya juga masih dalam pembelajaran, dan akan terus saya coba aplikasikan, sehingga tidak lagi meratapi kondisi yang menyebalkan, dan mulai melihat hari-hari baik, serta mengucap syukur akan penyertaan Tuhan yang begitu luar biasa selama hidup ini.

 - little things that are not visible, sometimes it can be an instrument of self destruction- 


Tuesday, March 20, 2012

Focus to Yourself


Focus to Yourself

Sangat banyak orang berkata bahwa jika kita terlalu banyak membantu masalah orang lain, maka waktu yang kita buang untuk mengurus diri sendiri itu menjadi lebih sedikit. Alhasil pekerjaan kita seringkali berbuahkan hasil yang tidak maksimal.
Ya, saya cukup setuju dengan itu. 

Renungan ini membantu saya mendapatkan jawaban terhadap pertanyaan tentang kinerja saya selama ini. Saya sering sekali tidak mendapatkan hasil yang baik dalam melakukan berbagai tugas yang ada. Salah satu nya mungkin ya karena alasan di atas.

Saya mengalami yang namanya lelah pikiran. Saya menghabiskan cukup banyak energi saya untuk urusan diluar diri saya. Istilah “kepo” yang lagi booming sekarang ini mungkin bisa jadi memang cocok dengan saya. Meskipun kadang tidak jarang pula orang salah memahami arti dari “kepo” itu sendiri.
Bagi orang yang pandai me-manage diri, membantu orang bukanlah sebuah hal yang membuatnya kehilangan kesempatan melakukan tugasnya yang terbaik juga menjadi helper yang handal. Hanya masalahnya, kemampuan setiap orang dalam mengendalikan pikiran dan tenaga itu berbeda-beda tingkatannya. 

Melakukan hal-hal kecil seperti sering sms an, menghabiskan waktu untuk sekedar chatting basa-basi, itu juga merupakan suatu hal yang tidak sepenuhnya negative, tapi yang pasti itu membuat waktu kita terbuang. Membantu teman melepaskan bebannya, dengan cara menjadi pendengar setia, itu memerlukan waktu yang tidak sebentar dan juga butuh sumber daya pikiran, saat diminta saran.
Tidak mungkin bagi setiap orang untuk menghindar dari tugas sosial seperti itu..
Karena ketika kita melakukannya juga bersama orang lain, hubungan timbal-balik pasti tejadi. 

Ntah ini adalah keuntungan atau kerugian jika saya bukan lah tipe orang yang jika teman curhat, lalu dengan mudahnya mendengarkan dia berbicara dan kemudian cukup dengan memberi komentar dan sedikit saran, dan setelah berkahir, saya akan melupakan pembicaraan itu, dan segera kembali ke aktivitas saya, tanpa ada sedikit pun bayang-bayang curhat an tadi. Jarangkah orang seperti saya? saya juga tidak tahu. 

Jika anda bertanya apakah saya merasa senang dengan kondisi jiwa seperti itu?
Maka saya akan berkata: Tidak!! Rasanya sebagian dari kekuatan saya jadi hilang menguap ntah kemana. Apalagi jika ada orang yang curhat pada saya, kemudian saya dengan sukarela memberinya saran, lalu kemudian mendapati dia tidak ada usaha melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, dan kemudian malah sibuk mencari sumber saran dari orang lain yang dimana menurut saya orang tersebut tidak  lebih sesuai diajak pembicaraan dengan topik seperti itu. (bukannya sombong, tapi memang kenyataan bahwa ada orang yang baik membahas masalah ini, tapi tidak bijak diajak membahas masalah itu.. orang punya talenta masing-masing, dan itu bisa dinilai oleh orang lain). Itu mengecewakan.

Saya sadar, bahwa saya bukan lah orang yang bisa memberi saran terbaik dalam setiap permasalahan yang diajukan orang lain kepada saya. Saya bukan orang yang pandai berkata-kata, juga saya tidak memiliki pemikiran luar biasa, yang dapat selalu memuaskan setiap curhat an orang.
Dan saya mendapati jawaban nya beberapa waktu terkahir, mengapa sekalipun orang merasa saya tidak bisa memberi mereka jalan keluar terbaik, tapi tetap jika ada masalah mereka curhat ke saya, itu karena: orang curhat biasanya hanya butuh didengarkan.. mereka tidak sepenuhnya ingin mendapat saran apalagi kritikan. 

Saya menulis ini juga sadar, bahwa ini terdengar nyata jika saya itu kurang pintar ya.. haha
it’s okay, saya tidak keberatan jika ada orang menilai saya seperti itu, bagi saya yang penting adalah bagaimana saya bisa menikmati keberadaan diri saya dan semakin mengandalkan Tuhan. 

Kenyataan ini membuat saya jadi berpikir bahwa saya selama ini belum mempraktekan apa yang seharusnya saya lakukan. Saya belum mengoptimalkan diri saya untuk fokus pada diri sendiri dulu, baru orang lain.
Selama ini saya berpikir bahwa hukum tabur tuai memang akan terjadi, jika saya membantu orang lain, pasti kelak saya akan mendapat bantuan juga. Dan itu memang terjadi. Rasa bersalah saya terhadap perlakuan ke diri sendiri sedikit terobati dengan kenyataan yang saya terima ini. 

Namun demikian, saya tetap harus merubah kehidupan saya menuju ke cara hidup yang lebih baik.
Saya harus lebih banyak meluangkan waktu untuk mengatur keperluan saya sendiri dulu, membangun kekuatan yang cukup untuk diri sendiri, dan kemudian barulah jika saya sudah kuat, maka saya baru bisa membantu orang lain dengan lebih baik. 

Ketika saat itu datang, saya juga akan berusaha membantu orang lain tidak dengan keterpaksaan dan merasa itu adalah beban, tetapi saya akan membantu orang lain dengan tulus. Meskipun dengan membantu secara tulus tak jarang bantuan itu melebihi apa yang diharapkan orang lain, dan menurut orang dunia “ih kepo banget deh tuh orang” atau “wah cari muka.. mau dianggap orang bae”, itu tidak masalah. Saya yang melakukannya, mengapa harus orang lain yang lelah memikirkannya untuk saya? Saya enjoy dengan perbuatan yang saya yakini itu menyenangkan dan tidak membawa kerugian , malah keuntungan. 

-build your power by focusing to yourself more, then you can help another without significant difficulties-

Saturday, March 17, 2012

Self Control

Self Control
Saya merasa sedih sekaligus bahagia beberapa hari ini. Sepertinya ada saja sesuatu yang membuat saya kembali harus mengevaluasi diri atas apa yang telah saya katakan dan lakukan.
Evaluasi satu belum selesai, sudah datang yang berikutnya. Sebenarnya saya tau, jika Tuhan nyatanya sedang membantu saya untuk membentuk kepribadian saya yang lebih baik, sesuai dengan apa yang Ia harapkan. Saya bersyukur sekali.. 

Peringatan dan penyadaran dari orang tua saya, saudara saya, teman-teman, mengenai sikap saya selama ini, sedikit membuat saya kecewa terhadap diri sendiri.. Mengapa saya begitu punya banyak kelemahan? Saya selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam menghadapi segala sesuatunya. Tapi pada nyatanya, hal tersebut sungguh tidak mudah. 

Pertama, saya itu plin-plan sekali.. membuat keputusan yang terlalu cepat, dan baru menimbangnya lebih jauh lagi di kemudian. Karena saya sendiri  tidak terlalu suka jika bertanya pada seseorang, dan mendapatkan jawaban dalam waktu yang relatif lama. Tapi tetap saja kelemahan ya kelemahan. 

Kedua, sepertinya saya termasuk orang yang terlalu banyak bicara.. sehingga kata-kata yang kurang penting sekalipun seringkali saya ucapkan. Dan sifat humoris saya mungkin juga suka berlebihan. Apapun yang berlebihan sekalipun itu hal menyenangkan, itu tidak baik. Saya sadar itu.

Ketiga, saya kurang peduli terhadap hal yang tidak berkaitan dengan keperluan saya, padahal jika saya memberikan waktu untuk memperhatikan nya, itu bisa saja menjadi hal yang berguna dalam menambah ilmu pengetahuan saya.

Keempat, prinsip hidup saya yang seringkali terbalik dengan orang pada umumnya (tapi tentu yang kurang baik, namanya juga kelemahan..), yaitu, untuk kasus pekerjaan yang tidak harus segera dikumpulkan, seperti pekerjaan di rumah, saya lebih senang menghabiskan waktu untuk bersantai terlebih dahulu baru kemudian setelah puas baru mengerjakan tugas yang ada. Padahal orang berkata: “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, tapi bagi saya itu kebalikannya. Mengapa? Karena saya berpikir dangkal; yaitu bahwa umur manusia tidak ada yang tau.. kalau saya tiba-tiba mati, tentu saya tidak kecewa karena telah melewatkan kesenangan itu. Haha (pikiran yang tidak cukup rasional ya..)

Kelima, saya lebih cepat mengedepankan amarah, sebelum saya mampu menenangkan diri. Saya bisa begitu kesal jika saya sudah membayangkan apa yang akan saya lakukan setelah ini, setelah itu, dan kemudian ternyata ada hal lain yang tiba-tiba membuat perencanaan kegiatan saya berantakan. 

Dan masih banyaaakk lagi kekurangan saya, yang pada intinya saya menarik suatu kesimpulan yang cukup realistis, yaitu tentang  sumber dari segala sumber ; akar dari semua kekurangan saya itu adalah Kontrol diri yang masih belum maksimal.

Kesimpulan itu menjadi sebuah kata kunci yang begitu berarti untuk menjadi target utama perombakan kepribadian saya yang masih begitu labil.

Semua penyadaran ini saya dapatkan dari Tuhan yang mau membawa saya menjadi pribadi yang unggul. Saya percaya itu. Dan saya tidak akan tinggal diam dan pura-pura bisa mengabaikan kekurangan itu semua. Melainkan saya akan terus berusaha sebisa mungkin untuk mengalami perubahan yang lebih berarti. 

-evaluations must be taken because the value is the same as the buried gold-

Dare to Protest, Dare to Give the Resolution


Dare to Protest, Dare to Give the Resolution

Baru 2 minggu saya memulai perkuliahan di semester baru ini, saya sudah mendapat pelajaran yang berharga. Dimana setiap harinya dosen mengajar mahasiswanya untuk berpikir lebih kritis dari yang mereka pernah lakukan sebelumnya. Memberikan tugas kelompok dan meminta kami untuk mempresentasikannya sudah menjadi hal yang biasa. 

Sekalipun kegiatan sejenis ini sudah berlangsung sejak SMA, tapi di perkuliahan intensitas dilakukannya jauh lebih sering, dan itu membuat pikiran saya kembali harus bekerja ekstra. Anda harus bisa memberikan tanggapan dan resolusi terhadap permasalahan yang anda bahas.

Dosen saya menjadi teladan yang baik, dengan memberikan contoh yang tepat. Beliau menceritakan bagaimana ia melihat kondisi perekonomian Indonesia yang begitu memprihatinkan. Dimana Indonesia sebagai negara yang agraris yang memiliki sumber daya alam melimpah serta tenaga kerja yang banyak, belum diolah dan diberdayakan secara efektif dan efisien. 

Hasil bumi Indonesia banyak di ekspor ke negara luar, dengan keuntungan yang minim bagi Indonesia, dan malah memberikan income yang jauh lebih besar bagi negara yang di ekspor. Kenapa? Karena teknologi Indonesia yang masih ketinggalan dan tidak secanggih negara maju, sehingga Indonesia mengekspor banyak bahan baku mentah saja, yang kemudian baru diolah di negara yang diekspor tersebut dan mendatangkan keuntungan berlipat-lipat kali ganda ketika negara maju tersebut menjualnya secara massal. Barang jadi dengan bahan baku mentah kan harga jualnya jauh lebih tinggi barang jadi. Maka tentulah pendapatan Indonesia tidak sebanyak negara maju tersebut. Setuju? Ya… Indonesia kasian.. 

Saya membenarkan perkataan dosen itu, tapi beliau berkata tidak hanya sampai disitu saja. Tidak selesai dengan merenungkan nasib bangsa, dan hanya bisa memprotes pemerintahan yang belum mengoptimalkan potensi yang dimiliki negara ini saja. Ternyata beliau ikut memikirkan cara bagaimana supaya kesejahteraan rakyat Indonesia, terlebih para petani bisa menjadi lebih baik. Beliau melakukan aksi.  

Beliau membentuk tim revolusi (ide sendiri, bukan diminta pemerintah), dengan mengumpulkan anggotanya yang terdiri dari beberapa dosen, mahasiswa, dan ahli” lainnya dari berbagai jurusan, seperti dari fakultas teknik, kimia, sosiologi, pengusaha, dan berbagai golongan lainnya, dimana tujuan dibentuknya tim itu adalah untuk membuat perubahan yang cukup hebat untuk mendobrak perekonomian rakyat jelata tersebut. Beliau beserta dengan rekan-rekan tim lainnya, mulai memikirkan cara merancang sebuah mesin berteknologi canggih, membuatnya untuk mengolah sumber daya alam yang dimiliki, memperkenalkan nya ke berbagai kalangan, dan mulai memproduksi mesin itu lebih banyak, dan dijual.
Hasilnya? membanggakan dan memuaskan. 

Saya tidak bisa menceritakan nya lebih detail, karena kisah perjuangan mengharukan itu cukup panjang. :)

Inti dari cerita beliau itu menyadarkan saya dengan sangat, bahwa jika anda merasa ada sesuatu masalah jangan hanya merenungi dan menyalahkan keadaan, ataupun pihak lain saja. Melainkan, mulailah untuk berhenti bersungut-sungut, dan segera rencanakan perubahan apa yang akan diambil, dan lakukan perubahan itu. 
Anda berani protes, harus bisa memberikan jalan keluar juga terhadap masalah tersebut. Jangan hanya banyak menyalahkan dan mengintimidasi siapa pun. 

Saya terinspirasi dari pengalaman beliau, dan mulai berpikir untuk melakukan perubahan pola pikir seperti yang beliau lakukan. Saya akan selalu mencoba untuk tidak hanya meratapi situasi yang kurang baik, tetapi juga menemukan jalan keluarnya. Dan sungguh baiknya, jika semua orang juga mulai memperhatikan hal baik tersebut. 

-things will not change if there is no proper planning and action-



Monday, March 5, 2012

Choice of Life

Choice of Life


Hari ini saya ingin berbagi apa yang ada di pikiran saya akhir-akhir ini..
Saya sudah melihat tentang bagaimana orang mudah membuat rencana dan juga mudah untuk menyerah ketika mereka menemukan masalah dalam jalan pada mencapai target.

Sebagai ilustrasi sederhana:

Ketika
seorang pemuda ingin memulai membangun bisnis sendiri, ia akan melakukan apapun untuk membuat keinginannya menjadi kenyataan. Seorang tersebut mulai memikirkan dan menerapkan 9P yang dimana dalam dalam ilmu marketing adalah: (Planning, People/Prospects, Product, Price, Promotion, Place/Distribution, Partners, Presentation, Passion: Intense, driving or overmastering feelings, Emotion).

Semakin lama ia menjalani  bisnis barunya, semakin sering ia menemukan masalah, semakin ia merasa tidak beruntung. Pada mulanya, ia tau bahwa tantangan itu adalah hal yang wajar akan dialami seorang pebisnis baru seperti dirinya, namun keyakinan nya luntur begitu ia mengalami sebuah masalah yang jauh lebih besar dari yang pernah ia lalui sebelum-sebelumnya. Akhirnya bisnis yang  dibangun dengan susah payah itu terpaksa ia hentikan karena ia merasa lelah dengan tanggung jawab dan beban yang ia tanggung. Ternyata pemuda tersebut belum cukup mental yang kuat dan komitmen yang konsisten untuk berada di dalam bisnis yang semakin dinamis jaman sekarang ini.

Banyak bukan orang yang mengalami nasib serupa seperti pemuda tersebut?
Merasa telah melakukan persiapan yang cukup, coba mengaplikasikan ilmu marketing yang pernah dipelajari, tapi masih bisa mengalami kegagalan.

Pertanyaan standar sekelas 5W1H pun terangkat ke pemukaan seperti biasa..

Apa yang salah??
Saya sebagai mahasiswi fakultas management, dengan senang hati akan coba meninjau kasus ini lebih seksama dan memberikan tanggapan saya..
Beberapa hal penting yang mungkin senantiasa terlewat oleh new entrance tersebut adalah: 

  • Tidak semua orang tau persis akan kemampuan dan talenta yang dimilikinya, sehingga tidak jarang jika kegagalan itu datang karena ia salah mengambil langkah atau pekerjaan dalam memulai karirnya.
  • Melangkah dalam keraguan dan bayang-bayang bisnis masa depan yang menakutkan (padahal belum tentu terjadi)
  • Mismanagement
  • Terlalu mengandalkan diri sendiri, tidak menyertakan Tuhan dalam pekerjaannya, mengabaikan gagasan dan ide” dari karyawan nya, juga melupakan nasihat orang yang lebih berpengalaman

  • Terlalu takut mengambil resiko namun terlalu banyak bermimpi mendapatkan keuntungan maksimal (dream n think more, do less)
  • Malas mengembangkan skill dan ilmu yang dimiliknya
  • Relationship terhadap partner bisnis, employees, supplier, customer yang tidak terjalin dengan baik
  • Sulit mengontrol diri
  • Dan masih banyak hal lain yang ikut serta berpartisipasi dalam kegagalan tersebut.

Adapun tindakan yang semestinya dilakukan (masih menurut saya) adalah:

  • Lakukan perencanaan dengan matang (tidak lupa meminta tuntunan Tuhan)
  •   Persiapkan diri semaksimal mungkin
  • Mulai melangkah
  •  Berani bertahan dalam kesesakan sekalipun saat anda tau bahwa anda berjalan di jalur yang benar
  • Percaya kekuatan anda, orang-orang disekitar yang bekerja bersama dengan anda membangun impian kesuksesan anda, dan andalkan Tuhan dalam mengambil segala keputusan 
  • Kembangkan ilmu
  • Lakukan evaluasi terhadap performance anda secara rutin, dan lakukan perubahan kebaikan kualitas
  • Tunjukan integritas anda dengan memiliki mental baja dan komitmen yang layak diacungkan  jempol
      Dan…
  • Kuasai diri sendiri ; lalu Selesaikan apa yang telah anda targetkan

Jika kita sadari, lebih banyak pintu yang terbuka untuk menuju sukses daripada pintu menuju kegagalan.

Pintu yang tertutup memang tidak selalu mengarah pada keburukan, bisa saja itu adalah pintu kesuksesan paling besar, tapi percayalah, Tuhan membiarkan kita melalui pintu yang lain dulu sebelum akhirnya kita bisa masuk ke pintu sukses terbesar tersebut. Karena Tuhan ingin melihat seberapa besar usaha dan perjuangan yang kita keluarkan untuk kita bisa menang. Seberapa layak kita dapat dibanggakan dan mendapat pujian.

Tuhan menguji, bukan memberikan cobaan. Karena pencobaan pada dasarnya bertujuan untuk menjatuhkan, tetapi ujian brtujuan untuk meningkatkan kualitas.  

So, akankah anda menunggu kesempatan datang menghampiri anda?
Saya rasa tidak.. pintu tidak akan terbuka dengan sendirinya jika tidak ada yang mencoba membukanya :)

-do your best for your best life-